Efektivitas Belum Bisa Dipastikan, Uji Klinis Terus Berjalan

Soal efektivitas, Tim Peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung, yang menjalankan uji klinis, belum bisa mengklaim apa-apa. Hal ini lantaran uji klinis vaksin corona Sinovac masih berada pada fase ketiga, dan berbagai reaksi serta efek samping yang timbul masih diamati.

Berdasarkan data yang diberitakan Kompas (20/11), sebanyak 1.620 relawan telah menerima suntikan pertama dan 1.603 relawan telah menerima suntikan kedua. Adapun suntikan kedua dilakukan dengan interval 14 hari sejak penyuntikan pertama. 

Prof. Dr. Hindra Irawan Satari, Ketua Komnas Komite Nasional Pengkajian Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), mengatakan bahwa perkembangan uji klinis fase ketiga vaksin corona Sinovac sejauh ini hasilnya baik. Hal ini disampaikannya dalam konferensi pers terkait perkembangan uji klinis vaksin corona, Kamis (19/11) lalu.

Hindra juga mengatakan bahwa dari 1600-an relawan yang telah divaksin, tidak ada yang mengalami efek samping yang sifatnya serius. Namun, Hindra menyebut bahwa uji klinis vaksin corona belum selesai dan masih ada banyak hal yang perlu terus dikaji.

Baca juga: Uji Coba Vaksin Corona Lemah pada Lansia, Apa Alasannya?

Pemantauan Efek Samping Dilakukan BPOM

Soal efek samping, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito, mengatakan bahwa pemantauan terus dilakukan, satu bulan setelah vaksin dosis kedua disuntikkan. Hingga artikel ini ditulis, berdasarkan pantauan awal terkait hasil analisa, sampel darah, dan lainnya, terpantau aman.

Meski begitu, Penny menegaskan bahwa BPOM akan terus melakukan pemantauan terkait efek samping yang mungkin timbul, hingga 3-6 bulan ke depan. Hal ini dilakukan guna memastikan kandidat vaksin corona aman digunakan seluruh masyarakat nantinya, setelah dirilis.

Selain itu, BPOM juga masih menunggu data khasiat dan data lainnya untuk bisa segera memberikan izin penggunaan darurat atau emergency use of authorization (EUA). Penny juga menegaskan data mutu vaksin corona berdasarkan hasil inspeksi sudah dipastikan baik.

Baca juga: Berjuang Hasilkan Vaksin COVID-19, Ini Kandidatnya

Hal tersebut dilihat dari aspek mutu dari vaksin tersebut. Hasil itu didapatkan dari inspeksi BPOM bersama dengan Bio Farma bersama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), agar bisa sekaligus melihat aspek kehalalannya. Menurutnya, produk vaksin sudah memenuhi aspek cara produksi obat yang baik di China.

Komentar

Postingan populer dari blog ini